Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2011

Ocean Heaven

Film yang telah saya tonton cukup lama. Masuk kategori koleksi karena merupakan film drama pertama Jet Lie.

Anda tidak akan menemukan adegan action satupun dalam film Ocean Heaven (OH). Jet Li yang selama ini kita kenal sebagai bintang laga akan bermain full drama.  OH diangkat dari kisah nyata tentang seorang ayah single parent yang harus merawat putra laki-laki satu-satunya penderita autis.


Di awal cerita kita akan menyaksikan Lao Wang (Jet Li) mengajak sang putra Da Fu (Wen Zhang) untuk bunuh diri. Wang mengikat kakinya dan Da Fu dengan pemberat kemudian mereka terjun ke laut. Namun Da Fu adalah seorang perenang yang lihai, ia berhasil melepaskan ikatan pada kakinya. Peristiwa itu membuat Wang yang berprofesi sebagai teknisi di tempat wisata laut berpikir untuk melatih Da Fu agar dapat hidup mandiri.



Da Fu sang penderita autis dalam film ini telah berusia 21. Seorang yang perfeksionis selalu menata dan meletakkan sesuatu dengan sempurna. Di usia yang sudah cukup dewasa ini iapun memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis. Siapa wanita yang disukai Da Fu dan mengapa Wang ingin mengajaknya bunuh diri? Silakan temukan dalam film yang berhasil membuat saya berkaca ini.



Tak salah OH mendapat rating 8 dari 10 di IMDb. Akting Jet Li sungguh memukau. Saya yakin penonton dapat benar-benar merasakan rasa cinta seorang ayah pada anaknya. Pesan moral lain yang bisa kita tangkap adalah jika kita baik pada orang lain maka orang lainpun akan baik pada kita. Hal ini cukup menarik dan saya perhatikan selama film. Bagaimana Wang berinteraksi dengan tetangga dan bosnya hingga pertolongan tak terduga yang ia dapatkan.



Film ini memiliki alur sedang sehingga kita dapat menikmatinya dengan santai.Namun akan tak terasa hingga kita benar-benar terbawa cerita. Dua teman laki-laki yang saya ajak bahkan tak tahan untuk meneteskan air matanya padahal saya tahu mereka berdua bermental rambo. Semoga anda berkesempatan menonton film yang didedikasikan untuk orang tua biasa berhati mulia ini.

Kamis, 17 November 2011

Catatan Harian Si Boy: Pelepas Dahaga di Kala Sepi

sumber foto: https://www.facebook.com/CatatanSiBoy

Sudah cukup lama saya tidak menulis ulasan film. Film terakhir yang saya ulas adalah Ocean Heaven, film non action pertama Jet Lie. Kali ini saya akan mengulas tentan film Catatan Harian Si Boy. Film perdana besutan sutradara muda Putratma Tuta yang berhasil membuat saya berdecak kagum sepanjang pertunjukan. Saya berani mengatakan film ini masuk kategori bagus di tengah dahaga sepinya film-film bermutu Indonesia. Saya beri rate 4 dari 5. Indikator bagus menurut saya adalah ketika penonton bisa menikmati setiap alur film dengan nyaman dan akhirnya tanpa terasa film tersebut sudah berakhir.

Film ini di mulai dengan adegan tokoh utama Ario Bayu (Satrio) mengejar Onky Alexander (Boy) yang akan terbang dengan menggunakan helikopter. Selanjutnya adalah adegan nge-drift di Bunderan HI dan kejar-kejaran dengan polisi. Pembukaan ini menurut saya cukup bagus. Sangat niat karena harus mengosongkan Bunderan HI dan menggunakan jasa Rifat Sungkar untuk adegan nge-drift ini. Selanjutnya film benar-benar mengalir dan rapi. Penulis skenario Priesnanda Dwisatria, Ilya Sigma Tuta berhasil menghadirkan dialog-dialog yang renyah, membuat penonton tertawa dan sarat pesan moral walau disampaikan dengan cara khas anak muda zaman sekarang.

Secara garis besar CHSB berkisah tentang Satrio yang berusaha membantu Carissa Putri (Natasya) untuk menemukan pemilik buku harian yang selalu dipegang ibunya yang sedang sakit keras, Nuke. Namun, tokoh Nuke tidak diperlihatkan sama sekali di film ini. Sekedar mengingatkan tokoh Nuke di film Catatan Si Boy tahun 1987 diperankan oleh Ayu Azhari. Konflik yang terjadipun sebenarnya sangat biasa yaitu tentang persahabatan yang retak ketika sang tokoh utama terlibat cinta dengan seorang wanita yang sudah mempunyai pacar. Pacar Natasya diperankan oleh Paul Foster (Nico), aktor debutan asal Singapura keturunan Inggris dan Cina.

Hampir tak ada cela berarti dari para pemeran CHSB kecuali Carissa Putri yang kurang bisa memainkan peran sedih. Ario Bayu yang berperan sebagai Satrio berhasil menciptakan role model baru setelah Onky Alexander. Tokoh Satrio dibuat tidak sesempurna Boy. Sahabat-sahabat Satrio juga memberikan warna tersendiri. Nina (Poppy Sovia), Abimana Satya (Andi), Albert Halim (Herry) serta Tara Basro (Putri, adik Aryo) berhasil membuat CHSB semakin hidup. Dialog-dialog yang cair seperti tidak dibuat-buat membuat penonton akrab dan merasa dekat dengan Satrio cs. Terutama buat tokoh Andi dan Herry, mereka sangat menghibur. Kalau ada penghargaan peran pendukung terbaik saya harap salah satu dari tokoh-tokoh sahabat Ario tersebut berhasil jadi pemenang. Kehadiran Onky Alexander, Didi Petet, daan Leroy Osmani, Btari Karlina yang merupakan pemain Catatan Harian Si Boy membuat film bukan remake-nya ini semakin lengkap. Kalau ada yang sedikit disayangkan adalah tidak tampilnya Dede Yusuf yang dulu berperan sebagai Kendi dan Ayu Azhari sebagai Nuke.

Terakhir saya sangat berharap CHSB dibuat sekuelnya. Banyak pilihan cerita untuk melanjutan film Catatan Harian Si Boy ini. Tidak mengikutsertakan kembali Carissa Putri dan menggantinya dengan tokoh lain yang lebih berkarakter adalah “evaluasi” saya untuk film ini. Semoga semakin banyak film Indonesia yang bisa dinikmati sehingga kita tidak perlu merasa kehilangan atas ketidakhadiran film-film Hollywood di Tanah Air.